Music

10 Album Terbaik 2015

FIRC6437

Setelah sekian tahun absen dari kancah permusikan, tepatnya 4 tahun sejak pensiun sebagai Music Director salah satu radio kampus paling kece sejagad raya (cie gitu), akhirnya Saya menyempatkan diri berkutat lagi membagi review Saya mengenai album-album paling ciamik sepanjang 2015 versi paling subjektif tentunya (yha kan bukan music director lagi). Mungkin banyak yang tidak sependapat, yha namanya juga versi subjektif (hhe).

Karena keterbatasan waktu dalam update album-album 2015, jadi Saya satukan saja review album-album lokal-non lokal menjadi satu chart seperti berikut:

(1) Mew (+-)

Kalau ini mah jangan diragukan lagi. Jangan diragukan lagi subjektifnya ;p. Sebagai bagian dari Frengers, betapa bahagianya Saya mendapatkan kabar bahwa band terfavorit ini akan mengeluarkan album baru, tanpa babibu Saya langsung pre-order album ini di itunes. Kebahagiaan makin membuncah ketika mas Johan Wohlert bergabung kembali dalam band ini dan bersama Jonas cs mereka menggelar konser di jakarta Maret lalu. Sekali lagi digarisbawahi, konser, bukan festival musik alias konser tunggal gais!.

Okeh balik lagi ke albumnya, terdiri dari 10 track yang kental dengan ciri khas mereka, experimental-dreamy rock dengan balutan suara magical dari Jonas Bjerre berhasil membuat Saya eargasm dan headbang-ing sepanjang album. Simak saja lagu-lagu macam Satellites yang sebelumnya telah dirilis lebih dulu di itunes dan menjadi salah satu track favorit Saya di album ini, kemudian Witness, Clinging to a Bad Dream yang berakhir dreamy oleh suaranya Jonas Bjerre , Water Slides yang bikin nyandu , My Complication, The Night Believer yang bekerja sama dengan Frengers seluruh dunia dalam pembuatan video klipnya, Interview With The Girls, Rows yang merupakan track paling panjang di album ini dan ditutup dengan sendu oleh track Cross The River On Your Own. Album (+-) dari Mew ini sudah Saya putar berulang kali dan tidak membuat Saya bosan sekalipun, memang album ini paling pantas dijadikan album teranyar nomor satu sepanjang tahun 2015, versi Saya tentunya.

(2) Sore – Los Skut Leboys

Setelah menanti sekian lama sejak dirilisnya 2 single mereka berjudul There Goes dan 8 akhirnya album ketiga bertitel Los Skut Leboys ini dirilis jua. Walaupun sempat pincang karena ditinggal salah satu dedengkot mereka, Ramondo Gascaro, namun Ade Paloh Cs terus maju merampungkan album Los Skut Leboys ini. Dibalut dengan artwork kece dari Monica Hapsari (Pandai Besi), album berisi 14 lagu ini patut untuk didengarkan. Dibuka dengan intro 2 menit berjudul Sunday Diner Forgotten membuat Saya ingin menyimak album ini lebih dalam lagi. Coba saja simak beberapa track jawara seperti Map Biru dan Para Plesir Semu yang riang dan menghentak-hentak, kemudian ada GesnerianaAl Dusalima dan Pop Drama yang bisa menculik kita ke era 60-an, lalu ada juga membuat sendu seperti Fiksinesia, I Never Knew You in Wonderland dan Belajar Untuk Riang dimana terdengar sayup-sayup suara dari sutradara kenamaan Indonesia, Joko Anwar. Tidak ketinggalan track-track seperti There Goes, 8, R14, Plastik Kita dan Tatap Berkalam yang kental dan khas dengan identitas musik Sore ketika kita mendengarkannya.

(3) Tame Impala – Currents

Satu lagi yang ditunggu-tunggu, album ketiga dari Band Psychedelic asal Australia, Tame Impala!. Album yang berjudul Currents ini cukup mengobati rasa kekecewaan Saya terhadap album sebelumnya, Lonerism yang terlalu banjir efek. Seperti album pertamanya, Innerspeaker, suara Kevin Parker yang khas ditambah efek reverb dan delay yang pas kembali membuat Saya kembali mengawang-ngawang. Dari track pertamanya saja yang berjudul Let it Happen sudah membuat candu, apalagi ditambah 12 track berikutnya yang kental dengan bunyi-bunyian khas psychedelic. Track favorit Saya di album ini seperti The Moment, Let it Happen dan The Less I Know The Better berhasil membuat saya ingin mendengarnya terus berulang-ulang.

(4) Barasuara – Taifun

Setelah bercerai dengan The Trees And The Wild beberapa tahun lalu, akhirnya salah satu pentolan band akustik minimalis tersebut, Iga Massardi bersama  dengan TJ Kusuma, Gerald Hiras, Marco Steffiano, Asteriska dan Puti Chitara membentuk sebuah band baru bernama Barasuara. Berbeda dengan TTATW, Barasuara menawarkan musik yang lebih kaya dan penuh semangat pada album bertajuk Taifun yang rilis di penghujung tahun ini. Dibuka dengan track berjudul Nyala Suara yang menghentak ganas membuat Saya bersemangat melahap habis satu album ini, lalu lanjut ke track berikutnya, Sendu Melagu yang menonjolkan gebukan drum yang menggebu-gebu, Bahas Bahasa yang juga merupakan single pertama dari album ini,  memiliki lirik yang sangat menempel ketika pertama kali didengarkan, kemudian ada juga track-track lainnya yang tak kalah semangatnya seperti Hagia, Api dan Lentera, Menunggang Badai, Tarintih, Mengunci ingatan dan ditutup dengan cantik oleh Track yang bertajuk sama dengan judul album ini, Taifun.

(5) Efek Rumah Kaca – Sinestesia

Kepulangan Cholil Mahmud dari studinya di Amerika membuat saya menebak-menebak apakah kepulangannya ini akan menelurkan album baru dari Efek Rumah Kaca? Sebelumnya Saya sempat dibuat bertanya-tanya mengenai eksistensi ERK ketika mereka membuat project band bernama Pandai Besi yang menempa kembali lagu-lagu dari kedua album ERK sebelumnya. Akhirnya semua misteri terjawab juga setelah rilisnya album ketiga ERK bertajuk Sinestesia di penghujung tahun 2015 lalu. Tak berubah seperti album-album sebelumnya, keenam track dengan durasi panjang pada album ini memiliki makna-makna dan sindiran sosial politik yang sangat mengena untuk negri ini. Pemilihan judul lagu pada album ini pun bisa dibilang unik karena bertemakan warna seperti Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning. Pemilihan warna tersebut didedikasikan untuk Adrian yang hingga saat ini belum bisa bergabung bersama Cholil Cs di atas panggung karena mengidap sakit yang membuat persepsi Adrian bercampur baur seperti melihat warna berbeda jika mendengar nada atau melihat angka tertentu.

(6) Bjork – Vulnicura

Makin tua makin jadi! begitulah frasa yang tepat untuk tante asal Islandia yang satu ini. Seperti album-album sebelumnya, Album berjudul Vulnicura ini tidak merubah ciri khas Bjork yang unik. Dibuka dengan lagu berjudul Stone Milket dengan sayatan-sayatan violin yang menusuk-nusuk, lalu ada track favorit Saya Lion Song yang terdengar sangat magis, kemudian dilanjutkan dengan track-track berikutnya yang syahdu seperti , History of Touches, Black Lake, Family, Not Get, Atom Dance, Mouth Mantra dan Quick Sand. Hampir semua track pada album ini memiliki sound yang bisa membawa Anda merasakan dinginnya Islandia.

(7) Passion Pit – Kinred

Mendengar kembali Band Indie-electro asal Amerika ini mengeluarkan album ketiganya yang bertajuk Kinred, mebuat Saya mengingat kembali akan kejayaan musik indie-electro pada medio 2009-2010. Saat itu Passion Pit sangat mencuri perhatian saya karena musik dan liriknya yang sangat menempel di telinga sehingga banyak digunakan sebagai backsound Commercial Ads atau sebagai musik latar di cafe/coffee shop kekinian. Tidak ada yang berubah pada album ini, musiknya sangat riang dan kekinian, tapi hal itulah yang membuat album ini enak dan menarik untuk didengarkan sebagai mood booster. Coba saja dengarkan 10 track di dalamnya pada pagi hari seperti Lifted Up, Whole Life Story, Where The Sky Hangs, All I want, Five Foot Ten (I), Dancing On The Grave, Until We Can’t (Let’s Go), Looks Like rain, My Brother Taught Me How To Swim dan Ten Feet Tall (II) dijamin akan membangkitkan semangat Anda untuk memulai hari.

(8) Toro Y Moi – What For

Satu lagi musik psychelic yang masuk list album terbaik tahun ini setelah Tame ImpalaMemang bunyi-bunyian seperti psychelic, dream pop, dan shoegaze sangat mudah menempel di kuping saya. Coba saja dengarkan 10 track apik di album ini seperti Empty Nester, What You Want, Yeah Right dan Run Baby Run yang merupakan track favorit Saya, kemudian ada Spell it Out yang membangkitkan rasa ingin berdansa, lalu ada Buffalo, The Flight, Ratcliff, Lily, dan Half Dome yang patut untuk disimak.

(9) Blur – The Magic Whip

Ini dia British rock band yang ditunggu-tunggu akhirnya mengeluarkan album berjudul Magic Whip yang konon katanya proses recordingnya dilakukan di London dan Hongkong. Pantas saja album ini ada rasa orientalnya semisal pada track berjudul Pyongyang yang terdengar sayup-sayup lentingan suara kecapi atau apalah itu alat musik yang berdawai khas Asia Timur. Dari 12 track yang ada di album ini, favorit Saya adalah Go Out, Thought I Was A Spaceman, My Terracotta Heart dan Ong Ong.

(10) Grimes – Art Angels

Sesungguhnya sangat sulit memutuskan album terakhir pada Chart Saya ini, karena artinya tidak ada lagi album yang bisa saya tambahkan lagi. Setelah ditimbang-timbang dengan masak, jatuhlah pilihan saya pada album Art Angels milik Grimes ini. Tidak mau kalah dengan jamaah hipsteriah di luar sana yang memperbincangkan album ini, Saya pun penasaran untuk mendengarkan album keempat dari penyanyi asal Kanada yang bernama asli Claire Boucher ini. Sesungguhnya ini lah kali pertama Saya mendengarkan album dari Grimes, sebelumnya Saya tidak mengikuti perkembangan albumnya. Pertama kali dengar, Grimes ini mengingatkan Saya akan penyanyi asal Inggris FKA Twigs. Dari 14 lagu yang ada, favorit Saya adalah California, Flesh Without Blood, Belly of The Beat dan Venus Fly.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s