Music

Ketika Folk Yang Menenangkan Disandingkan Dengan Post-rock Yang Kelam

Iseng-iseng menunggu macet sepulang kantor, Saya akhirnya mampir ke toko CD favorit saya di bilangan Thamrin. Niat awalnya hanya ingin melihat-lihat saja sambil menunggu macet, tetapi akhirnya ada 2 CD yang menggoda iman Saya untuk dimiliki. Dari beberapa blog musik langganan Saya pun keduanya miliki review yang cukup bagus sehingga Saya memutuskan untuk membeli keduanya. Berikut Review Kedua Album tersebut yang pastinya versi subjektif dari Saya:

01. Roekmana’s Repertoire oleh Tigapagi 

Tigapagi sendiri merupakan trio asal bandung yang terdiri dari Sigit Pramudita (vokal, gitar, bass, kibor), Eko Sakti (gitar), dan Prima Dian Febrianto (gitar, piano, kecapi) yang terbentuk sekitar tahun 2006. Sempat tidak terdengar kabarnya, namun pada tahun 2010 Sigit Pramudita sempat berkolaborasi dengan Yayi dari Baby Eat Crackers membentuk duo bernama Katjie & Piering (lihat reviewnya  disini) sampai akhirnya mereka merilis sebuah album bertepatan dengan G30S/PKI tahun 2013 silam.

Roekmana’s Repertoire sendiri merupakan sebuah album yang disiapkan dengan sangat matang dan rapih berisikan 14 lagu dengan konsep repertoar tanpa jeda yang saling sambung menyambung dalam satu track dan hanya dipisahkan dengan notasi-notasi antara satu lagu dengan lagu yang lainnya.  Album ini pun didukung penuh oleh beberapa musisi seperti Ade Paloh (SORE) yang turut menyumbangkan lirik dan vokal dalam lagu “Alang-Alang”, Aji Gergaji (The Milo) pada “Tertidur”, Ida Ayu Made Paramita Saraswati (Nadafiksi) pada “Erika” dan tak ketinggalan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi) dalam lagu “Pasir”. Secara keseluruhan, 14 lagu repertoar yang sangat kental dengan nuansa folk dimana musik modern dan tradisional sunda dilebur dengan sangat cerdas ini berhasil membawa Saya seperti naik mesin waktu kembali ke era Indonesia tahun 60-an.

02. The Origin of Non Entity oleh Marche La Void

Gelap dan depresif, merupakan dua kata yang tepat untuk album dari ranah post rock lokal ini. Tanpa basa-basi, langsung saja Saya ulas lagu pertama, In Shadows, sebuah pembuka   yang datar namun perlahan seperti menyeret Saya ke dalam kegelapan. Kemudian disusul oleh Silent War berisi gesekan-gesekan biola dan gitar yang menyayat berhasil membuat Saya merasakan 12 menit paling nelangsa dalam hidup saya. Penyiksaan batin pun belum usai hingga terputarnya Display of Power dan AWe Progress Marching yang penuh dengan raungan gitar dan reverb tebal berlapis. Setelah rentetan raungan gitar yang bertubi-tubi, Saya seperti dilempar kembali pada keheningan oleh lagu For a Moment Silence . Lalu sampailah pada track terakhir Serenity, lagu ini mungkin , walau tidak segelap lagu-lagu sebelumnya namun kesan depresif tetap membekas hingga ke ubun-ubun. Overall, keenam lagu instrumental panjang dan berat di dalam album ini nyatanya telah berhasil mengaduk-aduk emosi Saya. Rasa-rasanya, album The Origin of Non Entity ini pantas dijadikan masterpiece postrock lokal, toh esensi dari postrock sendiri dapat dicapai album ini ;p

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s