Film

The Dreamers: Mengulik Ketabuan Era 60an

Melihat nama Eva Green menjadi salah satu cast dalam film ini membuat The Dreamers menjadi salah satu list film yang ingin Saya tonton. Film buatan sutradara asal Italia yang cukup kontroversial, Bernardo Bertolucci ini diadaptasi dari novel karya Gilbert Adair, berjudul Holy Innocent. Di film ini pun Bertolucci cukup kontroversial karena banyak menampilkan hal-hal tabu yang disertai dengan keberanian dan frontalitas dari ketiga pemain di dalamnya

The Dreamers sendiri menceritakan tentang seorang pelajar Amerika yang juga pecinta film, Matthew (Michael Pitt) yang datang ke Paris untuk sekolah. Di sana dia bertemu dengan kakak beradik yang juga kembar siam, Isabelle (Eva Green) dan Theo (Louis Garrel) yang juga tergila-gila dengan film. Karena memiliki latar belakang yang sama, akhirnya mereka berteman. Intimasi ketiganya dimulai ketika Theo dan Isabelle mengajak Matthew untuk mengunjungi dan menginap di rumah mereka. Saat itulah Matthew menemukan sesuatu yang tidak lazim dari cara pandang dan tingkah laku kedua kakak beradik ini seperti tidur bersama dalam keadaan nude. Ketidaklaziman itu pun pada akhirnya menjerumuskan Matthew ke dalam fantasi kedua kakak beradik ini. Di luar itu semua, ada banyak adegan menarik bagi pecinta film di sini seperti ketika Matthew, Theo dan Isabelle banyak berdiskusi sekaligus meniru berbagai adegan memorable dalam film-film klasik seperti Bande à Part (1964), Scarface (1932), Blonde Venus (1932). Dan yang paling membuat berdecak adalah adegan dimana mereka saling bertaruh dalam menebak judul film dengan hukuman yang tidak lazim pula seperti melakukan masturbasi dan seks.  Akhir cerita dari film ini pun multi tafsir dimana keintiman ketiganya berakhir saat terjadi aksi demonstrasi di luar rumah Theo dan Isabelle. Ketika itu di Perancis yang dalam settingan tahun 1968 memang sedang terjadi pergolakan politik.  Saat aksi demonstrasi terjadi, Theo dan Isabelle meninggalkan Matthew sendirian di tengah massa demonstran.

The Dreamers sendiri pada akhirnya bukanlah film yang menonjolkan seksualitas semata, namun memiliki beberapa sisi filosofis yang dikemas dengan sangat intim dan artistik. Dan bukankah Artsyintimacy dan seductivity memang merupakan tipikal film perancis?.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s